Saya terharu membaca tulisan ukhty Rusmini Bintis yang di posting di website www.pkspiyungan.org tentang poligami. Dan lebih salut lagi dengan kesiapannya untuk bersedia dipoligami. Tapi ada sudut pandang berbeda antara saya dengannya dalam hal poligami, dari tulisannya saya menangkap poligami menjadi sarana paling mumpuni untuk menyelamatkan nasib para akhwat yang belum menikah pada umur yang tak lagi muda.

Tidak ada yang salah dengan poligami. Al qur`an pun juga mengatakan nikahilah satu, dua, tiga atau empat wanita, jika tidak sanggup berlaku adil maka lebih baik satu saja. Rasulullah dan para sahabat pun mencontohkan.

Namun semangat berapi-api untuk berpoligami tanpa disertai mengukur diri merupakan hal yang sangat sembrono. Ketika saya membaca tulisan ukhty Rusmini Bintis saya menangkap bagaimana kalau seandainya para kader diserukan untuk berpoligami, kemudian para kader pun menanggapinya dengan penuh semangat. Namun apa jadinya jikalau semangat tanpa disertai dengan mengukur diri?

Maju berpoligami tanpa mengukur diri merupakan kecerobohan yang menenggelamkan. Semangat berapi-api yang membabi buta tanpa pandangan jauh melihat ke depan dan kedalam adalah langkah kesalahan.

Poligami menjadi hal yang mulia ketika seorang suami mampu berlaku adil pada istri-istrinya. Wanita pun menjadi semakin mulia ketika dia ridho dengan suaminya. Tapi dengan beristri satu saja dan  beberapa anak yang sudah dipunya seorang suami belum mampu menafkahi keluarganya lahir batin secara  sempurna, bagaimana mau menambah sebuah tanggungjawab lagi. Menikah dengan satu istri saja masih terdengar riak-riak keretakan dalam rumah tangga, bagaimana mau menambah lagi hingga dua, tiga dan empat?

Untuk masalah poligami ini saya menyimpulkan tafadhol bersemangat untuk berpoligami namun jangan lupa untuk mengukur diri.

“Poligami sebagai cara ampuh untuk menyelamatkan para akhwat dari kefuturan karena belum mendapatkan jodoh”. Menurut saya ada yang perlu dievaluasi dalam hal ini. Poligami bukan satu-satunya cara efektif (ingat saya bukan menentang poligami lhoo…), saya ingin memberikan evaluasi dan solusi atas permasalahan “banyaknya akhwat yang belum menikah di usia tak lagi muda” yang menjadi landasan berapi-apinya semangat ukhty Rusmini untukmenyerukan semua orang  berpoligami 😀

Ketika saya masih kuliah dulu, seorang senior pernah berkata pada saya “persiapkan dirimu baik-baik dari sekarang dek, kamu harus menyiapkan diri untuk menikah dengan laki-laki yang belum tarbiyah, kenapa? Karena memang jumlah ikhwan dibandingkan akhwat sangatlah sedikit, perkuat dan siapkanlah diri dari sekarang”.

Saya sangat ingat pesan akhwat senior itu hingga sekarang. Dan saya pun yakin dari dulu beliau memang mempersiapkan diri untuk menikah dengan laki-laki yang belum tarbiyah. Bukankah sebaiknya kita harus  mempersiapkan diri untuk kemungkinan-kemungkinan yang lebih sulit? Namun takdir Allah berkata lain beliau berjodoh dengan laki-laki yang sudah tarbiyah, kader pentolan pula. Nah… Bekal kesiapan  itulah yang patut dicontoh.

Menurut saya, sedari awal seorang akhwat harus memperkuat kesiapan diri untuk menikah dengan bukan ikhwan (laki-laki yang sudah tarbiyah). Jangan mendoktrin diri harus menikah dengan ikhwan. Perkuatlah azzam dan keistiqomahan di jalan dakwah. Masalah jodoh sungguh Allah sudah mengaturnya. Intinya tingkatkan kapasitas diri terlebih dahulu. Bukankah laki-laki baik untuk wanita yang baik-baik pula?

Mempersiapkan diri untuk menikah dengan laki-laki yang belum tarbiyah bukan berarti ketika datang pinangan dari lelaki yang perokok,pejudi atau pemain wanita diterima begitu saja. Tidak! Bukan demikian maksud saya. Tetap poin-poin  pertimbangan memilih jodoh dalam islam yang menjadi acuan utama yaitu agama. Jadikan agama sebagai tolak ukur yang utama. Jika lelaki itu sholeh, sholat berjamaah ke mesjid, rajin tilawah, shaum, santun dan baik akhlaknya, jangan langsung ditolak hanya lantaran belum tarbiyah. Pertimbangkan laki-laki sholeh itu. Jika ternyata dia mengizinkan akhwat untuk tarbiyah dan berdakwah kemudian diapun juga mau ikut serta, bukankah ini rahmat bagi dakwah? Disinilah kesiapan akhwat diperlukan, kesiapan semangat dan keistiqomahan dalam berdakwah, kesiapan dalam pemahaman dakwah. Akhwat bisa menjadi mitra diskusi bagi suami kelak, ketika suaminya malas datang liqo` dan menyambut seruan dakwah akhwatlah yang menjadi pendorong semangatnya. Nah..! kalau akhwat saja sebelum menikah sudah loyo menyambut seruan dakwah, malas berdakwah, amal yaumi kocar kacir, bagaimana nanti bisa menjadi mitra yang sukses bagi suaminya yang notabene baru mengenal dakwah. Ujung-ujungnya akhwat yang tidak mempersiapkan diri malah mundur dari dakwah, dan ikut dalam rombongan tidak lagi peduli dan tidak mau berdakwah. Disinilah titik tekan pentingnya kesiapan seorang akhwat. Saya pun banyak mendengar kesuksesan seorang akhwat mendampingi suaminya yang baru tarbiyah setelah menikah, beberapa waktu kemudian malah pemahaman suaminya jauh melampaui dirinya dan menjadi garda terdepan dalam barisan dakwah pula.

Namun mengenai menikah beda harokah  saya tidak menganjurkannya.  Bagaimanapun perbedaan prinsip dan pemikiran yang sangat mencolok dapat menjadi salah satu pemicu keretakan dalam hidup berumah tangga.

Di sisi lain saya ingin mengevaluasi fenomena yang terjadi di kalangan ikhwan. Pemikiran bahwa ikhwan memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang belum tarbiyah dengan alasan untuk mendakwahinya dan mengajaknya menjadi prajurit dakwah, menurut saya alas an ini sering hanya sebagai alibi. Saya melihat banyaknya kecendrungan seorang ikhwan untuk menjadikan poin kecantikan sebagai poin utama dari empat poin kriteria pasangan yang disebutkan Rasulullah. Kebanyakan ikhwan yang menikah dengan perempuan yang belum tarbiyah sebelumnya, umumnya jatuh cinta dengan simbol-simbol fisik dan tak sedikit pula yang memang sebelum menikah telah menjalin hubungan khusus dengan perempuan tersebut. Ah… katanya mau mendakwahinya eh malah “memacari”nya.

 Saya tetap lebih menghargai ikhwan yang lebih memprioritaskan menikah dengan akhwat karena kecintaannya terhadap dakwah ini, karena keinginannya untuk menjaga dan melindungi para akhwat yang sudah tertarbiyah. Bukan dengan menambah istri lagi dengan alasan melindungi akhwat, #eh. Dan saya lebih menghargai lagi ikhwan yang tidak menomorsatukan symbol-simbol fisik sebagai  penilaian utama dalam memilih pasangan hidupnya. Tetap agamanya yang utama.

Oh ya satu lagi, jikalau para ikhwan sudah mengukur diri dan memikirkan matang-matang untuk menikah lagi dan merasa sanggup. Pilihlah akhwat yang umurnya sudah tiga puluh ke atas, yang memang kesempatan untuk mendapatkan pasangan hidup secara hitung-hitungan manusianya lebih kecil dibandingkan usia dua puluhan. Jangan malah memilih akhwat muda cantik rupa yang para ikhwan  jomblo pun mengincarnya. Kalau seperti ini namanya melindungi akhwat atau melampiaskan nafsu syahwat? Wallahualam.

 

-dr.Feni Dwi Lestari-

 

idealita?

Posted: January 27, 2012 in Uncategorized

idealita…
jangan kau tanya aku tentang idealita,
mungkin dia sedang beranjak pergi entah kemana,
meninggalkanku diam-diam…

dulu,
aku berkawan akrab dengannya,
apa yang ia suka, apa yang tak ia suka, apapun tentangnya bagaimana kabarnya,
sepenuhnya aku mengerti
karena kami bersama

sekarang,
melihatnya saja aku tak mampu
terlalu tebal kabut memisahkan ku dengannya
aaaaaah…………..

kadang sulit ku membedakan idealita apa realita,
orang2 disekitarku mengaburkan dirinya,
bahkan orang-orang yang kupercaya

kembalikan ia padaku,
agar ia menjadi kawan setia
agar ada penghapus duka
agar ada yang mengusap air mata
agar….

Pagi ini kamu cantik sekali^^

Posted: January 8, 2012 in Wanita

*Hey….ukthty,
Pagi ini kamu cantik sekali^^

#Masa`?
Aku masih seperti hari kemaren dan hari-hari sebelumnya, malah aku semakin menua 

*apakah tua itu berarti tidak lagi cantik, lantas cantik itu seperti apa?

#semua orang pasti menyetujui definisi cantik ini, cantik itu bening, putih, rambut lurus hitam, langsing, tak berjerawat, mulus seutuhnya, coba saja tanyakan pada semua lelaki, pasti mereka menyetujuinya.

*hmm… kasihan sekali wanita kalau seperti itu definisi cantik menurut mereka, satu fase pun dalam hidup mereka belum tentu merasa cantik,
hmmm…. berarti semakin tua wanita semakin jeleklah ia , sungguh semu sekali definisi cantik yang seperti itu. Padahal cantik sejatinya bukanlah demikian. Seperti dirimu yang pagi ini bertambah cantik.

#benarkah? Aku masih sama (bersikeras)

*kamu bertambah cantik, dengan air wudhu` yang senantiasa melembabkan pori-pori kulit wajahmu, bukankan semakin banyak berwudhu` wajahmu akan tampak semakin cantik dan berseri.
Kamu semakin cantik dengan lembutnya tutur katamu.
Kamu semakin cantik dengan kidung-kidung do`amu dan sujud-sujud panjang malammu
Kamu semakin cantik dengan kecerdasanmu
Kamu semakin cantik dengan ayat-ayat cinta Allah yang mengalir dari bibirmu
Kamu semakin cantik dengan hafalan-hafalan al-qur`an mu.
Dan…
Pagi ini kau tampak lebih cantik,
Makin hari makin bertambah cantik,
Jika wanita biasa tampak tak lagi menarik di usia tua
Maka, kamu tampak makin cantik di usia senja
Karena kamu, memiliki definisi cantik seutuhnya.

#dialog hati dipagi hari, SEMANGAAT^^ menuju cantik yang seutuhnya 😀

Jangan Risau, Ada Allah !

Posted: May 9, 2011 in Uncategorized

“galau”, satu kata ini cukup bisa mewakili apa yang saya maksud kali ini. Meski ungkapan ini tak sesuai penggunaannya dengan yang biasa digunakan kawan-kawan saya di puskesmas ulak karang dalam gurauan menunggu waktu pulang. Siapa yang tidak “galau” disaat detik-detik keluar dari dunia yang bernama kampus?? Ya…! Minimal itu saya, cukup galau dibuatnya.

Saat keluar dari dunia kampus, ada sebuah beban yang dipikul oleh seorang yang bernama mahasiswa dulunya, minimal beban atas jawaban “akan kemana setelah ini”. Ya! Saya pun pernah mendengar gurauan bahwa banyak yang menunda untuk tamat kuliah karena takut dengan dunia luar sana, tapi lebih banyak karena takut bertitle sebagai pengangguran dibalik title kesarjanaannya.

Tapi, beda dengan galaunya saya. Tidak terbersit keinginan untuk menunda tamat, tapi malah sebaliknya ingin segera meninggalkan baju seragam putih dengan dua kantong dibawahnya itu. Tak ingin rasanya berlama-lama bernasib menjadi koas. Ingin segera memiliki gelar dr didepan nama dan membuang baju seragam putih itu dan menggantinya dengan jas dokter sesungguhnya. Sungguh ingin!.

Tapi, sebuah kecemasan menggerogoti pikiran dan asa. Saya takut dengan dunia luar sana. Saya yakin godaannya lebih besar dari apa yang ada di benak saya. Yang paling saya khawatirkan adalah….Madrasah kehidupan saya nantinya.

“Jika ingin menjadi harum maka berkawanlah dengan penjual parfum, niscaya engkau akan terkena percikan harum parfumnya”. Ya! Teman kita bercerita, teman kita serumah, teman yang paling sering berinteraksi dengan kita, sedikit banyaknya akan mempengaruhi prilaku kita, kebiasaan kita dan karakter kita. Saya mendapatkan hal ini dikampus, dirumah tinggal saya, diwisma. Saya ibarat mendapat percikan harumnya parfum syurga. Ya! Saya tahu kawan-kawan yang tinggal diwisma bukanlah orang-orang yang luar biasa, bukan malaikat, bukanlah seseorang yang tidak memiliki kesalahan dan kekurangan, tapi satu hal, mereka adalah kumpulan orang-orang yang ingin menjadi lebih baik, menjadi muslimah yang lebih baik, ingin mengerti islam lebih baik, dan ingin mengaplikasikannya dengan benar. Inilah yang membuat adanya rasa ingin saling menghargai dan menasehati. Dan saya takut kehilangan madrasah ini. Wisma telah mengajariku banyak hal, juga membentukku pada beberapa hal. Ku tak ingin kehilangan madrasah ini, ku takut diluar sana ku larut dalam nilai-nilai yang tak lagi islami. Ku takut!

Ah…kutahu masih ada kajian mingguan yang akan menopangku. Ku juga tahu bahwa tarbiyah dzatiyahlah yang dapat menolongku. Tapi dibalik semua itu kujuga tahu bahwa lingkungan tempatku bertumbuh nantinya menentukan buah yang kan kuhasilkan. Lingkunganku terbangun dipagi hari, bekerja di siang hari dan beristirahat dimalam hari. Semua itu mungkin kan lebih banyak mempengaruhiku, memberi corak dalam kehidupanku. Ah… galau! Lagi-lagi galau jika memikirkan ini semua, ketakutan ini, kecemasan ini. Mungkin hanya pada Allah kita mengadukannya.

Cukup kita panjatkan do`a pada Sang Pemilik jiwa…

Do`a dan dzikir ketika dirundung kesedihan dan gundah :
“Aku hambaMu, putra seorang hambaMu. Nyawaku berada dalam kekuasaanMu. HukumMu telah berlaku kepada diriku dan adil keputusanMu terhadap diriku. Aku memohon kepadaMu dengan semua namaMu yang menjadi milikMu, ketika Engkau telah menamakan diriMu sendiri dengan semua nama itu; atau dengan nama yang telah Engkau turunkan dalam kitabMu; atau dengan nama yang telah Engkau ajarkan kepada salah seorang hambaMu; atau dengan nama ketika hanya Engkau yang mengetahuinya; jadikanlah Al Qur`an sebagai cahaya dan kedamaian dalam hatiku, sirnakanlah kesedihan dan kegundahanku” amin… (Imam Nawawi(2009:239) The complete book of dzikir, Arkanleema)

Do`a dan dzikir ketika menghadapi kesulitan dalam hidup

“dengan menyebut nama Allah kepada diriku, hartaku dan agamaku. Ya Allah berikanlah kerelaan kepada diriku untuk bisa menerima takdirMu dan berkahilah aku dalam perkara yang telah Engkau takdirkan untuk diriku sehingga aku tidak akan senang untuk menyegerakan takdir yang masih Engkau tangguhkan dan aku tidak akan senang untuk menangguhkan takdir yang telah Engkau datangkan lebih cepat”. Amin. (Imam Nawawi(2009:245) Al Azkar; the complete book of dzikir, Arkanleema)

*sebuah perenungan, mencari jawaban…

Mari memasak ; “Ikan suka-suka ^_^”

Menu yang mau saya bagi kali ini adalah “ikan suka-suka”, resepnya dibuat sesuka-sukanya, sesuai bahan2 yg ada (biasa anak kos  ).
Bahan-bahan :
1. ikan teri segar kira-kira ¼ kg (klo saya biasa menyebutnya ikan teri, biasanya ada yang udah dikeringin, ada ada yang segar/basah)
2. tempe (dipotong dadu)
3. terong 2 buah (dipotong setengah lingkaran dgn ketebalan kira 0,5 cm/ atau potong aja sesuai selera hati)
4. buncis 15 buah (dipotong serong)
5. bawang merah 3 butir (diiris), bawang putih 2 siung (diiris tipis2)
6. tombak bawang ½ – 1 ikat, (haha…klo dikampung saya bahan yang satu disebut “tombak bawang”, katanya ini merupakan batang dari bawang merah, bentuknya berupa batang bulat panjang dan bagian tengahnya bolong, warnanya ijo, hmm…saya kurang tahu juga nama bahan ini didaerah lain), tombak bawang ini dipotong kecil-kecil kira-kira 1 – 2 cm
7. cabe ijo (diris serong tipis-tipis)
8. tomat 1 buah (dipotong kecil-kecil, kira-kira 11 cm x 1cm x 0,5 cm / sesuka hatinya sajaa^_^)
8. minyak goreng secukupnya
9. garam secukupnya

Ok…
Cara memasaknya :
Pertama-tama goreng tempe sampe menguning, lalu angkat dan tiriskan
Goreng bucis sampe layuh,lalu angkat dan tiriskan
Goreng terong sampe layuh, lalu angkat dan tiriskan
Goreng ikan sampe menguning, lalu angkat dan tiriskan
Goreng bawang merah, sedikit agak layuh masukkan tombak dan bawang putih, ketika tombak bawang setengah layuh masukkan cabe ijo, sering-sering diaduk supaya masaknya merata dan tidak ada bagian yang hangus, lalu masukkan tomat yang sudah diiris-iris, aduk-aduk terus sampe tomatnya layuh dan hancur dan bau cabe yang menyengat saat digoreng sudah hilang, kemudian masukkan bahan-bahan yang sebelumnya sudah digoreng dan ditiriskan (terong, buncis, ikan, tempe), lalu diaduk-aduk hingga merata bercampur semua bahan-bahan, lalu taburkan garam halus secukupnya dan aduk hingga merata.
Lalu angkat dan sajikan ^_^
(Sejujurnya saya baru kali ini nyoba masak kayak begini, dan saat resep ini ditulis saya belum mencobanya( musti nunggu 1 jam lagi), tapi kata temen yang sudah mencobanya dengan nasi, komentarnya “enak, pengen nambah”, -mudah2n ini bukan bohong yang dibolehkan- hehe… *g` sabar ingin mencobanya….

Analisis Gizi :
Protein hewani : berasal dari ikan laut, hmmm… protein dari ikan katanya bagus untuk kesehatan, klo makan ikan kecil-kecil kayak begini biasanya kita akan memakannya dengan seluruh rangkanya (tulangnya), tentunya tinggi kalsium, dan ini sangat baik untuk kesehatan tulang.
Protein nabati : berasal dari tempe
Serat dan vitamin : berasal dari terong, buncis dan tombak bawang (kalo ingin tahu lengkapnya kandungan nih bahan silahkan search di google)

Analisis biaya :
Ikan teri basah Rp. 3.000
Terong Rp. 500
Buncis Rp. 1.000
Tempe Rp. 1.000
Bawang merah Rp. 500
Tombak bawang Rp. 1.000
Cabe ijo Rp. 1.000
Minyak goreng Rp. 2.000
Total biaya Rp. 10.000

HemaaaAAAAAT…..baaaanYYYYYAAAk…… uEEEnnnAAAAKKK……..bergIZIIII>>> ^_^

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami,

Rapat-rapat kami bukanlah ajang pembuktian diri, bukan ajang mempertahankan ego diri, bukanlah ajang perdebatan panjang hingga panaslah hati-hati kami.

Tapi,

Rapat-rapat kami, adalah rapat dengan penuh kehati-hatian dalam bersikap, kehati-hatian dalam berucap, agar pendapat kami tak menyinggung saudara kami, agar pendapat kami benar-benar dari hati yang jernih bukan bisikan syetan yang menggoda hati.
Rapat-rapat kami, penuh pendapat yang berisi, karena semuanya sudah mempersiapkan diri, saat pendapat kami tak diterima kami tidaklah sakit hati, yang kami cari adalah jalan yang terbaik tuk dakwah ini, jika pendapat kami diterima kami tidak pula berbesar hati, karena kekhawatiran kami “jangan-jangan keputusan ini yang malah memundurkan dakwah ini”.

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami,

Saat saudara kita merasa terbebani sendiri, yang lain datang menemani, tidak ada yang bergerak sendiri, tidak ada yang merasa benar-benar sendiri

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami,

Saat seorang saudara melakukan kesalahan, kami tidak langsung memvonis tersangka, tapi ditabayuni dan sama-sama intropeksi diri, mencari jalan keluar atas segala permasalahan, bersama-sama!

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami,

Saat terjadi perselisihan, setiap insan saling intropeksi diri, mencari kesalahan diri sendiri, bukan melihat kesalahan orang lain, meminta maaf bukanlah menghinakan diri, tapi meninggikan derajat kita di mata Illahi, bukankah ini yang dicari?

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami,

Kami rela mengorbankan hati kami, jiwa kami, harta kami, raga kami dan waktu yang kami miliki demi dakwah ini, karena kami telah menjual diri kami pada Allah dengan syurga yang Ia janjikan.
Berada pada posisi atas, tengah, bawah dan posisi mana saja tak masalah bagi kami, yang terpenting kami telah memberi kontribusi terbaik untuk dakwah ini, biarlah Allah yang menjadi juri.

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami,

Hubungan dengan Allah harus senantiasa diperbaiki, dalam sujud-sujud panjang kami dan dalam lantunan ayat-ayat suci di bibir ini, agar setiap kata adalah dari petunjukNya, agar setiap sikap adalah dari bimbinganNya, agar hubungan sesame kami semakin baik hari demi harinya.

Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami,

…………

Matangya hati bukanlah hasil yang instan, tapi lahir dari proses belajar yang diiringi rasa sabar dan ikhlas

Pagi menjelang siang, saya memutari pasar raya Padang dengan adek kelas yang kebetulan jadwal kuliahnya jam 1 siang. Sedangkan saya, berstatus sebagai koas dengan perasaan yang paling menderita sedunia kala itu.

Blok demi blok pasar telah kami lewati namun belum juga kami temui sebuah rak piring berpenutup kaca dengan harga pas dikantong kami. Hufft… terik matahari semakin sengat menindih ubun-ubun kepala. Lelah dengan hasil yang sia-sia, kami pun berangkat ke simpang haru, satu-satunya toko yang menjual barang yang kami cari-cari pun tak memberi harga yang sesuai dengan kantong kami.

Matahari semakin tinggi, panas matahari semakin membakar ubun-ubun kami, tenggorokan kami mulai dicekat kekeringan, dehidrasi!. Ku ster motor varioku tuk memulai perjalanan kami, hanya beberapa meter berjalan, saya merasa kesulitan mengendalikan sepeda motor ini, rasanya saya sudah memicu gas dengan lebih cepat namun jalannya masih lambat dan stirnya terasa liat, kuberhentikan motor, kuperiksa bagian bawah motor, ternyata bannya kempes. “aghh….” Gerutuku, panas-panas begini musti dorong motor. Kulirik kekiri kanan jalan, tak jauh sekitar 30 meter dari tempatku berada kulihat sebuah tambal ban. “Alhamdulillah” lirihku. Kudorong motorku yang terasa lebih berat dari biasanya gara-gara satu bannya yang kempes.

“pak tolong saya pak, bannya kempes sepertinya tertusuk paku” ucap saya ketika sampai di tempat tambal itu. Seorang bapak paruh baya langsung melihat kearah ban depanku dan memutar-mutarnya tanpa banyak bicara. Lama aku berdiri didekat motorku melihat bapak itu bekerja dan sesekali melihat kendaraan berlalu lalang di depanku. Panas matahari semakin terik, tenggorokanku semakin tercekat, kuputari pandanganku tak ada satupun penjual minuman sekitar tempat ini. Panas semakin terik, dan kaki ini pun terlalu lelah sedari tadi berdiri, kuputuskan tuk duduk didalam pondok-pondokan kecil bapak ini, hanya beratap seng yang disanggah beberapa kayu supaya berdiri dan tak berdinding kecuali sisi belakangnya saja.

Kutatap bapak itu yang masih sibuk membuka benen dari rodanya, lalu diisi angin sampai menggembung penuh dan dicelupkan ke dalam ember besar yang telah diisi air. Bagian benen yang bocorpun segera ketahuan dari lubang benen yang kebocoran angin sehingga mendorong air disekitarnya sambil mengeluarkan bunyi. Pikiranku melayang jauh, berputar-putar pada masalah koasku.

“ah…. Betapa bodohnya aku” gerutuku menyesali diri. Mengingat apa yang pernah terjadi pada diriku akhir-akhir ini, pada permasalahan hidupku, masalah keinginan-keinginan besarku yang belum kunjung terwujud, pada ujian-ujian yang tak seberapa namun sangat besar dimataku. Pada pikiran bodohku saat dosenku berkata aku harus mengulang dua minggu yang ini berarti aku harus memperpanjang studiku dan menggagalkan beberapa rencana hidupku. Dalam emosi itu ingin kulajukan motorku ini sekencang-kencangnya, sejauh-jauhnya hingga menjauh dari semua permasalahan ini, keluar dari kesulitan hidup ini. “ah…..” untung aku tak pernah melakukan pikiran bodohku itu, tapi aku masih menyesal pernah berpikir seperti itu.

Kutatap lekat-lekat bapak penambal ban yang sedang bekerja di depanku. Dengan sabar dia mencari titik bocor banku lalu memanaskannya diatas kompor tambal ban tanpa sedikitpun menggerutu. Tak jelas berapa pendapatan bapak ini satu hari. Ya… kalau dipikir-pikir jika ban motorku ini tak bocor mungkin belum ada penghasilan bapak ini, kalau tidak ada yang kurang angin mungkin tidak ada pula yang ngisi angin, kalau ngisi angin paling dapat satu ribu tiap isi. Ternyata bapak ini bukanlah satu-satunya penambal ban ditempat ini, tak jauh beberapa meter diseberang jalan ini juga ada tempat tambal ban, dan sekitar 20 meter di depannya juga ada penambal ban, berarti saingan juga ada. Ya…bagaimanapun juga setiap orang pasti sudah ada rezqinya ditentukan Allah, seperti hari ini saya mengantarkan rezqi bapak yang dititipkan Allah pada saya.

Saya pun membandingkan peruntungan saya dengan bapak ini. Saya mulai mengira-ngira, kemungkinan bapak ini sekolahnya mungkin cuma sampai sd, smp atau sma, tidak sampai kuliah. Sedangkan saya…? Alhamdulillah diberi kesempatan oleh Allah untuk kuliah. Lalu pikiran saya berkeliaran pada masa-masa lalu saya, pada peruntungan saya, pada hal-hal telah luput untuk saya syukuri. Astaghfirullah…betapa sedikitnya saya bersyukur bahkan untuk kelengkapan anggota badan saya, pada udara yang bisa saya hirup setiap harinya, pada kaki yang bisa saya gerakkkan kemana saja, pada tangan, pada mulut, pada…..tak terhitung nikmatNya…..

Subhanalllah… Alhamdulillah…berkali-kali saya bersyukur, betapa banyak nikmat yang kulupa, sedikit saja diuji sudah merasa orang paling menderita sedunia padahal banyak yang diuji lebih berat dari diri saya. Mulai saat itu saya bertekad, untuk senantiasa belaar bersyukur, menghadapi masalah bukan sebagai sorang pecundang tapi sorang pejuang tangguh yang bersungguh-sungguh dan bersabar.

Pasti ada kemudahan yang menyertai setiap kesulitan, pasti ada hikmah dalam setiap kejadian,

Yakinlah…

bukankah pelangi yang indah itu akan muncul sesaat setelah hujan??